Kamis, 03 November 2011

Remaja dan Konsep Diri

A. Pendahuluan
Di era yang modern ini sangatlah penting bagi seorang remaja untuk memahami maupun mengenal konsep diri. Karena melalui pemahaman terhadap konsep diri, seorang remaja dapat mengenal siapa dirinya yang sebenarnya, seperti apakah dia, dan bagaimana cara dia menjaga diri serta memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi. Menurut C.J Rogers, konsep diri adalah merupakan gambaran tentang diri sendiri sejauh evaluasi terhadap gambaran tersebut. Sedangkan menurut Hurlock, E.B, konsep diri merupakan jumlah total dari ide-ide atau gagasan-gagasan tentang apa dan siapa dia

Dalam kehidupan nyata, konsep diri dapat digolongkan menjadi beberapa golongan. Penggolongan pertama adalah konsep diri riel yaitu konsep diri yang memandang diri sendiri seperti adanya. Penggolongan yang ke-dua adalah konsep diri ideal, konsep yang satu ini memandang diri sendiri seperti yang dicita-citakan. Saat ini konsep seperti ini begitu menjamur di kalangan muda terutama pada pergaulan remaja, misalkan saja seorang remaja begitu menuntut gambaran seorang remaja yang disebut ”gaul”. Seperti apakah gambaran ”remaja yang gaul” di mata para remaja saat ini? , tentulah bermacam-macam. Dan gambaran-gambaran tersebut saat ini sangat dicita-citakan oleh sebagian remaja Indonesia saat ini, mulai dari remaja yang desa hingga remaja perkotaan.

Golongan yang ketiga adalah konsep diri Patologis, konsep ini sering disebut-sebut sebagai konsep diri yang sakit. Konsep ini juga membahayakan bagi remaja khususnya. Banyak remaja menghayalkan untuk dapat melakukan sesuatu, tetapi kebanyakan remaja tidak berusaha merealisasikan apa yang telah ia khayalkan. Sehingga dalam konsep diri yang satu ini, si pengkhayal tidak berani untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah ia khayalkan itu, alias malas untuk melakukan sesuatu tetapi ingin mencapai yang diimpikan.

Konsep diri dapat juga dipandang dari berbagai sumber si pengkonsep. Konsep diri yang pertama disebut sebagai konsep diri subjektif. Konsep diri subjektif adalah melihat tentang diri sendiri. Konsep diri Objektif adalah bagaimana orang lain memandang diri seseorang. Sedangkan gabungan dari keduanya akan membentuk suatu struktur konsep diri (selft concept structure). Self concept structure inilah yang dibutuhkan sesorang agar dapat membangun diri menjadi lebih baik.

B. Pentingnya Konsep Diri Bagi Remaja
Remaja adalah waktu manusia berumur belasan tahun. Pada masa remaja manusia tidak dapat disebut sudah dewasa tetapi tidak dapat pula disebut anak-anak. Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anak-anak menuju dewasa. Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun. Dari bahasa inggris "teenager" yakni manusia usia 13-19 tahun.

Sejenak mungkin kita akan bertanya apa itu Konsep Diri? Apa esensinya? Kegunaannya apa?dan banyak lagi pertanyaan yang mungkin terlontar tentang judul di atas. Sebelum pertanyaan tersebut dijawab, mungkin kita perlu sejenak membayangkan kondisi berikut.
Seandainya anda memiliki sebuah DeskTop PC (Personal Computer) dengan spesifikasi PENTIUM IV 3 Ghz, HardDisk 40 GB, DDRAM 256 MB, CDRW 52×36×48, SoundCard Yamaha, VGA GeForce, OS MS Windows XP Pro, dan berbagai komponen yang mutakhir lainnya. Lalu andaikan OS (Operating System) yang anda gunakan untuk PC tadi adalah MS DOS 3.0 bukan Windows XP apa yang terjadi pada PC tersebut?

Ada 2 kemungkinan, yang pertama mungkin PC anda tidak mau jalan karena OS yang anda gunakan sudah ketinggalan jaman. Yang kedua, PC anda jalan tapi tidak bekerja optimal sehingga keunggulan komponen-komponen tidak dapat dirasakan.
Nah, itulah konsep diri. Konsep diri adalah Operating System bagi NeckTop PC, yaitu Sistem Persyarafan tubuh kita. Kita ini merupakan sebuah komputer yang paling canggih tetapi tanyakan pada diri kita, “Apa kita sudah sering meng-upgrade konsep diri kita?”

Konsep diri memiliki 3 komponen yang sangat penting karena akan mempengaruhi hidup kita mulai saat kecil hingga sekarang, komponen tersebut antara lain :
  1. Diri Ideal.Dalam konteks dunia pendidikan, diri ideal yang sering ditetapkan orangtua adalah anak harus mendapat nilai sempurna (100 atau A). dalam setiap ujian
  2. Citra Diri.Anda akan selalu bertindak atau bersikap sesuai dengan gambar yang muncul dalam cermin/citra diri anda.
  3. Harga Diri.Semakin anda menyukai diri anda, menerima diri anda, & hormat pada diri anda sendiri sebagai seorang yang berharga & bermakna, maka semakin tinggi harga diri anda.
Kesimpulannya dapat dimisalkan sebagai berikut : Orangtua anda menetapkan diri ideal anda harus mendapat nilai 100 untuk ulangan Matematika, tetapi anda hanya dapat nilai 60 (Citra diri). Yang terjadi sekarang adalah diri ideal tidak sejalan dengan citra diri.Ini sudah pasti akan berpengaruh pada harga diri anda.

C. Bagaimana Konsep Diri Terbentuk
Konsep diri bukanlah bawaan lahir, melainkan hasil belajar. Semenjak manusia mengenal lingkungan hidupnya, semenjak manusia mengenal lingkungan hidupnya, sejak itu pula ia belajar banyak hal tentang kehidupan. Berdasarkan pengalaman hidupnya, sesorang akan menetapkan konsep dirinya berdasarkan pengalaman hidupnya, sesorang menetapkan konsep dirinya berdasarkan berbagai faktor. Menurut E.B. Hurlock, seorang psikologi, faktor-faktor itu adalah bentuk tubuh, cacat tubuh, pakaiaan, nama dan julukan, inteligensi, kecerdasan, taraf aspirasi/cita-cita, emosi, jenis/gengsi sekolah, status sosial, ekonomi keluarga, teman-teman, dan tokoh/orang yang mempengaruhi.

Bangunan konsep diri itu seperti meja, dimana terdapat kaki-kaki penyokongnya. Yang sangat berperan dalam “Meja” tersebut antara lain :
  1. Siapa yang memasang kaki tersebut?Pertama Orangtua dan setelah itu Guru
  2. Seberapa intensitas emosi yang timbul saat itu?Sedih,malu,bahagia,bangga,dll.
  3. Repetisi.Semakin sering, berarti semakin kuat kaki yang terpasang.
Kita akan lihat bagaimana terbentuk “meja” tadi lewat kisah berikut :
Saat anda masih kecil anda tidak sengaja memecahkan gelas lalu ibu anda mengatakan. “Anak bodoh, masak membawa gelas aja gak becus!”.Otomatis “meja” anda berbentuk. Lalu saat sekolah anda mendapat nilai jelek sehingga bentuk meja tidak jadi:

Berbeda kisahnya seandainya saat memecahkan gelas, ibu anda mengatakan “Kamu tidak apa-apa Nak?Lain kali hati-hati ya..”. Dan saat ujian orangtua anda menghargai nilai anda, maka meja akan berbentuk.
Dari kisah diatas dapat anda lihat efek yang akan terjadi apabila konsep diri yang kita miliki adalah salah satu meja diatas, bisa jadi positif bahkan mungkin negatif.

D. Pengaruh Konsep diri terhadap Komunikasi
Menurut Taylor, konsep diri merupakan inti dari kepribadian. Konsep diri mempengaruhi segenap tingkah laku sesorang menyesuaikan diri dengan situasi hidup. Ada lima pengaruh konsep diri terhadap komunikasi dalam hidup.

Seseorang cenderung melihat dirinya seperti yang dilihat dan dikatakan atau diharapkan oleh orang lain
Seseorang cenderung bertingkah laku sesuai dengan yang dilihatnya dan dikatakan atau diharapkan oleh orang lain. Sesuatu yang diharapkan dan diyakini tentang diri cenderung menjadi kenyataan. Sesorang, melalui konsep dirinya akan menyaring untuk melihat, mendengar, memberikan penilaiaan dan memahami segala sesuatu (pesan) yang berada didalam atau berasal dari luar dirinya.

Seseorang yang berkonsep diri positif cenderung membuka diri secara wajar pada orang lain, sedangkan yang berkonsep diri negatif biasanya cenderung tertutup. Orang yang memiliki konsep diri negatif biasanya sulit membuka diri, sulit dalam berbicara dengan orang lain sulit mengakui kesalahan, sulit menerima kritik dari orang lain, sulit mengemukakan gagasan atau ide, merasa tidak aman, merasa takut kalau orang lain tidak menyukai pendapatnya merasa tak mampu, serta kehilangan kepercayaan diri.

Seseorang yang berkonsep diri positif cenderung merasa senang akan dirinya dan merasa yakin bahwa ia mampu menghadapi berbagai situasi yang dijumpai dalam pergaulan hidup dan memiliki kepercayaan diri.

E. Mengubah Dan Meningkatkan Konsep Diri
Sangat tidak pantas sekali jika kita langsung menyalahkan orang tua atau guru yang di masa lalu telah membentuk konsep diri anda menjadi “Saya Bodoh”. Kita sudah dewasa, jadi kita harus merubahnya sendiri.
Bagaimana caranya? Caranya sebagai berikut :
  1. Kisah Sukses: Berupa kejadian, peristiwa, pengalaman, atau apa saja yang pernah anda alami dalam hidup yang dirasa istimewa. Kisah sukses ini harus anda tulis di atas kertas, tulislah kisah sukses terkini lalu mundur lagi, terus mundur sampai saat anda masih kecil, sampai kisah sukses paling lama yang bisa anda ingat. Ini akan membantu diri agar memberi self-talk positif dan menghentikan self-talk negatif disaat mengalami kegagalan.
  2. Simbol Sukses: Bentuknya dapat berupa Trofi, sertifikat ijazah, surat penghargaan, lencana, foto, tanda tangan orang yg dikagumi, rekaman video, kaset, dll.Simbol sukses ini sebagai Reminder (pengingat) akan keberhasilan yang pernah kita raih. Kisah & simbol sukses ini dapat memperkuat kaki “meja” konsep diri anda.
  3. Afirmasi Positif: Siapakah orang yang paling anda percayai pendapatnya di dunia ini? Tentu saja anda sendiri. Maka dari itu tanamkan pada diri kita benih kepercayaan diri dengan ucapan-ucapan positif (Afirmasi Positif). Afirmasi Positif dapat dibuat dgn benar, yakni :
  • Harus Positif. Jangan gunakan kalimat, “Saya tidak bodoh!” tapi gunakanlah kalimat, “Saya cerdas dan terampil!”
  • Menggunakan kalimat waktu sekarang. Jangan menggunakan kalimat, “ Besok saya akan rajin belajar,” tapi gunakan kalimat, ”Saya adalah murid yang rajin belajar.”
  • Bersifat pribadi. Gunakan kata “saya” Misalnya,”Saya murid yang pintar dan…. Persisten Lakukan selama 21 hari non-stop.
  • Dengan hasrat dan antusiasme yang besar.Libatkan emosi anda saat mengucapkan kalimat afirmasi anda
  • Visualisasi Multi Sensori, agar dapat melakukan cara ini, anda harus masuk dalam konalfa(kondisi di saat anda ingin tidur sehingga terasa rileks dan agak “fly”).

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews